Senja, Dulu dan Kini
Aku tak pernah suka senja.
Senja buatku adalah masa-masa ketika langit sedang merajuk manja, karena matahari mulai malas menunjukkan kemegahannya di tempat yang itu-itu saja.
Ia ingin dipuja di tempat-tempat lain juga.
Oleh sebab itu ia bersiap pergi untuk mempertontonkan kegagahannya di belahan bumi yang lain.
Dunia serasa akan runtuh di penghujung hari, karena langit tiba-tiba mengubah mimik wajahnya menjadi muram,
kesepian karena kekasihnya, sang matahari, pergi untuk mendua.
Ditambah lagi, sayup azan magrib yang dikumandangkan manusia untuk menghibur sang langit justru gagal mengobati kelamnya suasana.
Segala yang ada pada senja semakin menjadi pengingat untukku,
tentang betapa kecilnya diri kita sebagai manusia.
Betapa kita tidak bisa apa-apa tanpa kemurahan Yang Maha Pengasih,
betapa kita mungkin merasa bisa melakukan semuanya tanpa Yang Esa, hanya untuk melemah seperti ponsel yang sekian lama tidak dicolok ke sumber daya.
Sungguh, senja mengingatkanku akan ketidakberdayaanku.
Akan kelemahan dan setiap buruk celaku.
Karena itu aku tidak pernah suka senja.
Tapi kini, karena setelah senja berlalu kita jadi bisa berjumpa,
dan semalam suntuk menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran berdua...
Kurasa aku akan belajar menyukainya.
==========
Originally posted on my private Instagram account
"Senja, Dulu dan Kini"
Oct 25th, 2017
By ChristaOG



Komentar
Posting Komentar